PRODUKSI SUSU SEGAR LOKAL
DENGAN PRODUKSI SUSU SEGAR LOKAL yang hanya 20-30 persen dari total kebutuhan susu nasional, Indonesia masih harus mengimpor bahan baku susu 4 juta-5 juta liter setara susu segar per hari. Bila rata-rata produksi susu dalam negeri 10 liter per ekor, berarti setidaknya butuh
400.000- 500.000 ekor lagi sapi perah yang laktasi (menyusui) untuk memenuhi kekurangan produksi. Nilai ekonomi yang bisa digerakkan dari usaha sapi perah itu amat besar.Dengan tambahan produksi susu segar sebanyak itu, akan ada tambahan omzet dari penjualan susu Rp 12 miliar-Rp 15 miliar per hari atau rata-rata Rp 4,28 triliun-Rp 5,48 triliun per tahun. Hitungan ini dengan asumsi harga Rp 3.000 per liter.
Berputarnya
uang sebesar itu di pedesaan tentu akan mampu membangkitkan ekonomi pedesaan, bahkan menjalar ke kota. Makin besar lagi perputaran uangnya jika susu segar tersebut diolah oleh industri pengolahan susu di desa-desa sehingga menghasilkan nilai tambah yang bisa lima kali lipat lebih besarnya.
Teknik Sanitasi SusuSusu sangat peka terhadap cemaran kuman serta mudah menjadi rusak atau busuk. kerusakan susu akibat kontaminasi kuman membahayakan konsumen karena dapat terjadi penularan penyakit umpamanya brucellosis dan tbc. Proses pencemaran dapat terjadi pada berbagai kesempatan antara lain, saat susu diperah, penyimpanan pada milk-can, transportasi dari kandang ke cooling unit, penanganan ditempat penampungan hingga pengangkutan melalui truk tanki; sampai pada industri pengolah susu kembali dilakukan pengujian. angka kuman yang melebihi batas ambang ditolak, terpaksa susu dibuang ke kali. Banyaknya kesempatan kuman mencemari susu tersebut perlu dikembangkan teknik sanitasi yang bertujuan untuk mencegah dan menekan pertumbihan mikroba kontaminan air susu. karena awal kontaminasi terjadi pada saat pemerahan. Mempertahankan Kualitas Susu SegarSusu segar yang baru saja diperah dari sapi ataupun kambing dapat mengalami perubahan kualitas apabila tidak diperlakukan secara benar, sehingga manfaat gizi yang ada dapat terjaga dengan benar dan higienis semenjak diperah. Susu sapi yang rusak akan mengalami penurunan kualitas diakibatan pengaruh suhu penyimpanan, ditandai dengan perubahaan warna dari warna aslinya dan baunya pun tidak khas seperti susu segar. Bila diuji dilaboratorium akan ditemukan cemaran mikroba yang tdak sesuai dengan SNI (Standarrt Nasional Indonesia), dan susu seperti ini tidak layak dikonsumsi oleh konsumen bahkan akan berdampak negatif bagi yang meminumnya. |


